Di
tempat mukim baru ini, Na Li Ni mulai membatik bermotifkan burung hong,
liong, bunga seruni, banji, mata uang dan warna merah darah ayam khas
Tiong Hwa. Motif ini menjadi ciri khas unik Batik Lasem.
Keunikan
Batik Lasem itu mendapat tempat penting di dunia perdagangan. Pedagang
antarpulau dengan kapal kemudian mengirim Batik Lasem ke seluruh wilayah
Nusantara. Bahkan diawal abad XIX Batik Lasem sempat diekspor ke
Thailand dan Suriname. Batik Lasem memasuki masa kejayaan.
Booming Batik
Lasem membuat perajin menjadi semakin kreatif. Motif baru seperti
latohan, gunung ringgit, kricakan atau watu pecah bermunculan. Syahdan
perajin menciptakan motif kricakan karena terinspirasi penderitaan
rakyat saat harus memecah batu-batu besar untuk dibuat jalan raya pos
oleh Daendels.
Batik Lasem terus
menorehkan catatan emas hingga jelang berakhirnya penjajahan kolonial.
Para pengusaha Batik Lasem yang berasal dari kalangan Tionghoa mendapat
tempat istimewa di penduduk pribumi karena membuka lapangan kerja yang
banyak.
Masa kejayaan batik yang
menjadi ikon pembauran budaya Jawa dan Cina itu mulai menyurut tahun
1950-an. Penyebab utama kemunduran Batik Lasem adalah karena terdesak
oleh maraknya batik cap di berbagai daerah. Selain itu, juga dikarenakan
kondisi politik yang menyudutkan etnis Cina yang merupakan penguasa
perdagangan Batik Lasem.
Menurut data
Forum Economic Development (Fedep) Rembang, tahun 1950-an ada sekitar
140 pengusaha Batik Lasem. Tahun 1970-an jumlahnya merosot hingga
tinggal separo. Puncaknya tahun 1980-an pengusaha Batik Lasem hanya
tinggal mencapai 7 orang saja yang aktif. Selanjutnya perkembangan Batik
Lasem terus mengalami pasang dan surut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar